17
Feb
10

Keris

keris

Senjata tradisional yang lekat dengan karakter orang Jawa ini, selain digunakan sebagai senjata tikam, keris juga dianggap memiliki daya magis dan memiliki wibawa tersendiri. Bahkan orang Jawa jaman dahulu percaya, bahwa laki-laki bisa disebut sebagai laki-laki sejati apabila sudah memiliki lima hal, yaitu : sebuah keris pusaka; seekor kuda; burung peliharaan; seorang wanita dan sebuah rumah.

Jadi, bagi orang Jawa sendiri, keris biasanya telah dimiliki oleh nenek moyang mereka, dan diwariskan secara turun temurun kepada anak-cucu. Sehingga Keris dalam kultur budaya jawa tidak hanya digunakan sebagai senjata semata tetapi juga sebagai simbol dan status bagi pemiliknya. Dikalangan keluarga bangsawan Jawa, bisa dipastikan mereka mempunyai keris warisan turun temurun yang dipercaya memiliki keampuhan, daya magis, dan wibawa yang khas sendiri-sendiri. Sehingga setiap keluarga yang memiliki keris pusaka ini biasanya harus melakukan ritual memandikan pusaka yang biasanya dilakukan setahun sekali. Cara dan ritual memandikan pusaka ini tergantung dari tata cara ritual keluarga dan jenis kerisnya. Namun meski biasanya pemilik mendapatkannya dari warisan nenek-moyang mereka, tidak setiap individu “berjodoh” dengan keris pusaka tersebut. Mereka percaya bahwa keris juga memilih sendiri tuannya. Dan ada sebagian orang yang mendapatkannya dengan cara melakukan ritual-ritual tertentu agar bisa memperolehnya. Ada juga yang mendapatkannya dengan cara membelinya, untuk yang satu ini biasanya dijadikan sebagai benda koleksi yang memiliki nilai tinggi.

Namun meski erat hubungannya dengan budaya jawa, bukan berarti menjadi milik orang jawa sendiri, karena ternyata jenis senjata tikam ini juga ditemukan di daerah-daerah dan negara lain, tergantung dari jenis dan motifnya yang memiliki ciri khas sendiri pada tiap daerah.

Menurut Wikipedia, Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan,

Keris bagi orang Jawa

serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di daerah Mindanao). Di Mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam. Dari mana asal keris bisa diketahui juga dari pegangan keris itu sendiri. Untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia. Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

Keris juga dapat dibedakan dari cara penggunaannya. Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti rencong dari Aceh, badik dari Sulawesi serta kujang dari Jawa Barat. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan berupa pamor pada bilahnya.

Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.


0 Responses to “Keris”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


RSS whats Hot

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Welcome Visitor

free counters

Translate

Arsip

Blog Stats

  • 54,752 hits

Blog Status

GrowUrl.com - growing your website
Iklankan website anda di sini...!!