06
Feb
10

tradisi penulisan Indonesia

Tulisan didaun lontar

Tradisi penulisan Indonesia telah dikenal beberapa abad yang lalu. Saat media untuk menulis belum seperti yang digunakan hari ini. Nenek moyang kita telah menyadari betapa penting menuliskan “Diary” yang akan mereka tinggalkan sebagai warisan sejarah dan budaya untuk anak-cucunya kelak. Media yang digunakan, bukan pena dan kertas seperti yang biasa kita gunakan hari ini. Mereka menggoreskan sejarah perjalanan hidup, kelahiran dan kematian, cara hidup, dan runtuh serta berkembangnya suatu negara dengan media yang ada, seperti tulang, batu, daun (biasanya memakai daun lontar), atau gerabah. Bahkan didinding-dinding goa tempat mereka tinggal.

Mungkin ini sebagian bukti bahwa para leluhur kita entah dimanapun diseluruh bumi ini, telah mengenal design graphis pada masanya. Kita bisa melihatnya dari bukti-bukti peninggalan sejarah itu sendiri. Sebelum mengenal tulisan, mereka memilih gambar untuk memvisualkan aktifitas dan menceritakan sejarah dan cara mereka hidup dan mati. Mereka juga mencipta aneka ragam benda untuk keperluan sehari-hari seperti pisau, tombak, bahkan alat makan dan minum dan juga makam.

Betapa sangat membanggakan menelusuri jaman prasejarah modern yang tertinggal,  mempelajari cara mereka hidup, dan menjaga peninggalan-peninggalan berharga itu.

Tulisan pada jaman dulu, menggunakan batu dan daun lontar sebagai materialnya. Banyak situs pra sejarah yang ditemukan yang memberikan bukti-bukti tersebut.  Yang nyata dan pasti sudah pernah melihat adalah pahatan gambar didinding candi. Dinding-dinding candi ini mampu bercerita tentang sejarah awal berdirinya suatu kerajaan, hingga gugurnya seorang raja.

Belum lagi prasasti-prasasti yang berbentuk batu (Yupa) yang ditemukan di Kutai Martadipura sebagai bukti kebesaran Kerajaan Kutai pada masa pemerintahan Mulawarman. Prasasti itu berlukiskan huruf pallawa, yang menurut bentuk dan jenisnya berasal dari seketar tahun 400 Masehi. Bahasanya memakai bahasa sanskerta, dan tersusun dalam bentuk syair.

Prasasti Yupa Kutai Martadipura

Nama Mulawarman dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Kutai sendiri merupakan kerajaan Hindu tertua di Nusantara dan Asia Tenggara.

Runtuhnya kerajaan ini,  dikarenakan tewasnya sang raja, Maharaja Dharma Setia, dalam pertempuran melawan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.


4 Responses to “tradisi penulisan Indonesia”


  1. 6 Februari 2010 pukul 4:09 PM

    Artikel yang menarik, blog Anda juga bagus…sukses ya 🙂
    http://mobil88.wordpress.com

    • 6 Februari 2010 pukul 4:33 PM

      wow, makasih kunjungannya bang…ini masih kurang di sana-sini…:)

  2. 3 darahbiroe
    7 Februari 2010 pukul 5:57 PM

    ijin mengamankan keduaxxxxx

    tulisan jadul nuy hehehhe

    berkunjung n ditunggu ajah kunjungan baliknya makasih

    • 7 Februari 2010 pukul 9:55 PM

      hehehe…tentu-tentu…di tunggu ya bang…saya pasti mampir…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


RSS whats Hot

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Welcome Visitor

free counters

Translate

Arsip

Blog Stats

  • 54,752 hits

Blog Status

GrowUrl.com - growing your website
Iklankan website anda di sini...!!