25
Jan
10

Legenda Candi Prambanan

Cerita yang menyertai berdirinya candi Prambanan, adalah kisah Roro Jonggrang. Putri raja Boko yang sangat cantik. Dahulu kala di daerah Prambanan berdiri dua buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Keraton Boko. Putra mahkota Kerajaan Pengging, Bandung Bondowoso, terpesona melihat kecantikan Roro Jonggrang dan berniat untuk meminangnya.

Kerajaan Pengging adalah sebuah kerajaan subur dan makmur di bawah kepemimpinan Raden Damar Moyo seorang yang arif dan bijaksana. Putra mahkota kerajaan Pengging adalah Bandung Bondowoso.

Keraton Boko sendiri berdiri di bawah pemerintahan Kerajaan Pengging. Diperintah oleh raja lalim, Prabu Boko yang tidak berujud manusia, melainkan raksasa pemakan daging manusia. Patihnya bernama Patih Gupolo. Meski Prabu Boko berujud raksasa, tetapi sang Prabu memiliki putri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang.

Ambisi untuk menguasai Kerajaan Pengging membuat Prabu Boko memberontak. Maka terjadilah perang antara Kerajaan Pengging dan Keraton Boko. Akhirnya Raden Damar Moyo mengutus putranya Bandung Bondowoso untuk turun ke medan perang dan menaklukkan Prabu Boko. Benar saja, dengan kesaktiannya, Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan dan membinasakan Prabu Boko.

Mengetahui rajanya tewas, Patih Gupolo melarikan diri, dan segera setelah

Patung Gupolo

sesampainya di Keraton Boko, sang Patih segera melaporkan tewasnya raja Boko di tangan satria Pengging bernama Bnadung Bondowoso kepada putri sang Prabu, Roro Jonggrang.

Sesampainya Bandung Bondowoso di Keraton Boko dan melihat kecantikan sang putri, Bandung Bondowoso ingin mempersuntingnya. Tetapi karena telah mengetahui bahwa dialah yang telah m,embunuh ayahandanya, Roro Jonggrang tidak menginginkan pernikahan itu.
Maka, untuk menolak pinangan sang putra mahkota Pengging, dia mengajukan syarat, yaitu : Roro Jonggarang bersedia dijadikan istri oleh Banadung Bondowoso, asal dia di buatkan 1000 candi dalam satu malam, dan sebuah sumur.

Raden Bandung menyanggupi kedua permintaan sang putri Roro Jonggrang, dan segeralah Raden Bandung membuat sumur Jala Tunda dan setelah jadi ia memanggil putri Roro Jonggrang untuk melihat sumur. Kemudian putri Roro Jonggrang menyuruh Raden Bandung masuk ke dalam sumur. Dan setelah Raden Bandung sampai di bawah, putri memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dengan batu. Dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur, dan putri Roro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung telah mati di dalam sumur, akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur, ternyata Raden Bandung dapat keluar dari sumur dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso kembali menemui putri Roro Jonggrang dengan marah besar karena telah menimbun Raden Bandung di dalam sumur, tetapi karena kecantikan putri Roro Jonggrang kemarahan Raden Bandung menjadi mereda. Kemudian putri Roro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam satu malam.
Maka segeralah Raden Bandung memerintahkan para jin-jin untuk membuat 1000 candi, akan tetapi di lain pihak putri Roro Jonggrang ingin mengagalkan usaha Bandung membuat candi. la memerintahkan para gadis disekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayampun berkokok bergantian.
Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta ditimur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Para jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi menurut firasat Raden Bandung, pagi hari belumlah tiba.

Maka dipanggilah putri Roro Jonggrang disuruh menghitung jumlah candi yang telah dibuat dan ternyata jumlahnya baru 999 candi, jadi yang belum selesai, tinggal satu candi lagi. Maka putri Roro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung.
Karena merasa ditipu dan dipermainkan maka Raden bandung murka sekali dan mengutuk putri Loro Jonggrang “Hai Roro Jonggrang 1000 candi kurang satu dan genapnya seribu candi dan engkaulah orangnya”.

Durga (Roro Jonggrang)

Dan segera putri Roro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu. Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua), karena telah membantu putri Roro Jonggrang.

Dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa pacaran di Candi Prambanan akan putus cintanya.


0 Responses to “Legenda Candi Prambanan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


RSS whats Hot

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Welcome Visitor

free counters

Translate

Arsip

Blog Stats

  • 54,752 hits

Blog Status

GrowUrl.com - growing your website
Iklankan website anda di sini...!!