Matahari, seorang wanita yang sangat mencintai tari sebagai bagian hidupnya, dan membawanya kepuncak ketenaran, dan yang membawanya menjadi seorang spionase internasional. Nama aslinya sebelum dia dikenal dan terkenal sebagai MATAHARI adalah Geertruida Margaretha Zelle, nama Belanda yang diberikan orang tuanya, Adam Zelle dan Antje van der Meulen. HIdup dalam masa dimana para lelakinya senang memakai topi, membuat ayahnya menjadi pengusaha topi yang sukses. Sehingga, Adam Zelle mampu memberikan pendidikan yang terbaik padanya sampai dengan umur Margaretha 13 tahun. Pada tahun 1889 usaha Adam Zelle mengalami kebangkrutan, kehidupan keluarga ini tidak lagi sama, dan mengantarkan mereka ke gerbang perceraian bagi pasangan Adam Zelle dan Antje van Meulen. Dan pada tahun 1891, ibunya meninggal dunia. Terlahir sebagai anak perempuan tertua dari 4 bersaudara yang kesemuanya laki-laki, membuat Margaretha dipaksa untuk berfikir lebih dewasa sepeninggal ibundanya. Tepat dua tahun setelah kematian sang bunda, ayahnya menikah lagi dengan Susanna Catharina Hoove, sesaat setelah pernikahan kedua sang aMargaretha memilih untuk tidak tinggal bersama keluarga barunya, melainkan memilih tinggal bersama dengan ayah baptisnya, Heer Visser. Atas anjuran Heer Visser, ayah baptisnya, Margaretha belajar untuk menjadi seorang guru taman kanak-kanak. Segera setelah ia menyetujui saran sang ayah baptis, ia segera berkemas dan melakukan perjalanan menuju Leyde, sekolah untuk calon guru yang dikelola oleh Wybrandus Haanstra Heer.
Continue reading ‘MATAHARI Part 01′
Arsip untuk Kategori 'Art in Space'
MATAHARI Part 01
Akhir hidup Dien Tamaela
Dokter memvonis Dien terserang penyakit TBC saat usianya baru 25
tahun. Pada saat itu, TBC merupakan penyakit pembunuh no satu, karena belum ada obatnya sama sekali.
Kian hari, kesehatannya kian memburuk. Sang Ibu membawanya kerumah sakit yang sekarang di kenal dengan nama RSUP Cipto Mangunkusumo. Meskipun Dien telah mendapatkan perawatan yang optimal, tetapi tetap saja keadaan kesehatannya kian hari tidak mengalami perubahan, bahkan kian memburuk.
Continue reading ‘Akhir hidup Dien Tamaela’
Dien Tamaela
Siapa sebenarnya Dien Tamaela ? Tidak pernah di ketahui
secara pasti di mana Chairil dan dien berkenalan. Mungkin saja di Yogyakarta, karena mereka sama-sama sering bolak-balik dari Jakarta ke Yogyakarta.
Dien tinggal bersama keluarga Tahya-Pattiradjawane saudara dari Ibunya, yang sering di panggil Tante Putih, di Yogyakarta. Keluarga ini mengelola sebuah pemondokan atau asrama pelajar (kos-kos-an kalau sekarang) dan Dien tinggal di situ selama dia berada di Yogyakarta.
Continue reading ‘Dien Tamaela’
Demosthenes Davvetas
Luckily I made the appoinment with Jean-Michael Basquiat in this bar on Great Jones St. The Artist was late, but at least the TV worked. Lady providence, concerned about my nerves, was broadcasting a basketball game.
At one point my table-mate, a bearded Yankee of medium caliber, left his chair to go to the restrooms.
Absorded in the game, I thought he’d left. And when Basquiat finally turned up, I offered him his chair. Bad idea. The bearded guy come back. Livid, he pounced on my interlocutor, nearly knocking him down and ruining my shot, my interview. Absorbed with finding a correct translation of “You snooze, you lose,” I stayed out of it. In the end we changed tables. Not without a certain amount of irony. The scene could have been taken from one of the paintings by Jean-Michael Basquiat, graffiti artist born in one of the most disreputable neighborhood’s of Brooklyn. And the coarse protagonist of this episode of New Yorke life could well have admired it while taking the subway, like the thousands of subway users familiar with this type of image, from when the artis signed his undergrown works with the enigmatic name SAMO.
That was when comics attracted him more than is reasonable for a painter; his favorite themes were Hitchcock, Nixon, cars, war, and weapons.
Famous from the age of twenty-two, at the time Basquiat indicated in a biography that he’d wanted to become a fireman. While interviewing him, I racked my brain for the correct translation of “Many are called, few are chosen.”
Continue reading ‘Demosthenes Davvetas’
Pernah dengar puisi pujangga Chairil Anwar yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela? Puisi ini sangat populer, bukan hanya di Indonesia tapi juga di mancanegara.
Continue reading ‘Chairil Anwar dan Cerita Buat Dien Tamaela’
Chairil Anwar
Chairil Anwar
(Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922–Jakarta, 28 April 1949) atau
dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia.1986
Pda bulan Januari Basquiat pergi ke Los Angeles selama dua minggu, untuk
menghadiri pameran di Larry Gagosian Gallery, kunjungan kali ini adalah menjadi yang terakhir kali baginya.
Pada musim panas, pameran tunggalnya di gelar di Galerie Bruno Bischofberger di Zurich.
Pada bulan Agustus bersama dengan Jennifer Goode company dia berkunjung ke Afrika untuk pertama kalinya. Di sana ia tinggal bersama dengan Bruno dan Christina Bischofberger, yang atas desakan Basquiat telah mengatur sebuah pameran di Abidjan, di Ivory Coast.
Continue reading ‘..1986, ’till the Artist was gone…’
…1983-1984
…1983
Basquiat kembali ke LOs Angeles pada bulan Maret untuk pameran ke
duanya di Larry Gagosian Galeri. Karya utama fitur exhibitioned menampilkan teks dan gambar yang berkaitan dengan musisi, petinju terkenal, film Holliwood dan peran yang dimainkan Orang kulit hitam Amerika. Pada bulan yang sama Pameran Biennial di Whitney Museum of American Art di New Yorke di gelar dan Basquiat, di usianya yang baru dua puluh dua tahun, adalah salah satu seniman termuda yang pernah masuk dalam Pameran ini.
Continue reading ‘…1983-1984′
Basquiat in 1982
…1982
Basquiat menyewa sebuah Apartemen di 151 Crosby Street di SoHo. Dan
pindah ke sana pada bulan Januari bersama dengan Suzanne Mallouk pacarnya. Di sana dia bertemu dan berteman dengan seorang artis dari Barbados bernama Shenge Kapharoah.
Pada bulan maret Basquiat mendapat kesempatan untuk mengadakan pameran tunggalnya yang pertama di Amerika bertempat di Annina Nosei Gallery.
Continue reading ‘Basquiat in 1982′
Basquiat in 1980-1981
1980
Pada bulan Juni hasil kerja Basquiat dipamerkan untuk pertama kalinya dalam komunitas seni, yang disebut The Times Square show. Pelukis lainnya yang berpartisipasi di pameran ini, yang diselenggarakan di sebuah bangunan kosong di Times Square, adalah Jenny Holzer, Kenny Scharf dan Kiki Smith.
Continue reading ‘Basquiat in 1980-1981′





























