Salah satu keris peninggalan/ warisan nenek moyang yang terkenal adalah Keris Mpu Gandring. Nama keris ini erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kerajaan Singosari di daerah Malang, Jawa Timur. Sejarah menceritakan bahwa keris ini telah di kutuk oleh sang mpu (pembuat keris) dan kutukannya mengenai sang pemesan yang ternyata adalah sang raja kerajaan Singosari, Ken Arok.
Continue reading ‘Keris Mpu Gandring’
Arsip untuk Kategori 'art, heritage, culture'
Keris Mpu Gandring
Keris
Senjata tradisional yang lekat dengan karakter orang Jawa ini, selain digunakan sebagai senjata tikam, keris juga dianggap memiliki daya magis dan memiliki wibawa tersendiri. Bahkan orang Jawa jaman dahulu percaya, bahwa laki-laki bisa disebut sebagai laki-laki sejati apabila sudah memiliki lima hal, yaitu : sebuah keris pusaka; seekor kuda; burung peliharaan; seorang wanita dan sebuah rumah.
Continue reading ‘Keris’
Babad
Wikipedia menuliskan, dalam bahasa Jawa, Babad berarti memotong atau menebang pohon, atau dalam pengertian luasnya adalah membuka lahan baru. Dalam sejarah Jawa, pembukaan suatu wilayah biasanya diawali dengan pembukaan suatu lahan atau hutan baru. Babad biasanya ditulis dengan sejenis teks dari Jawa dan Bali.
Di Indonesia, babad yang terkenal dan menarik perhatian para ahli sejarah adalah babad Tanah Jawi dan Babad Giyanti. Menurut ahli sejarah HJ de
graaf, apa yang tertulis di Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai zaman Kartasura di abad 18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang.
Babad Tanah Jawi adalah sebuah karya sastra berbentuk tembang yang ditulis oleh carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan babad ini terpusat pada masa pemerintahan kerajaan Mataram dengan mencantumkan raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram pada pertengahan abad ke-18.
Sedang Babad Giyanti mengisahkan tentang politik yang terjadi dipulau Jawa dan sejarah pembagian Jawa pada 13 Februari 1755.
Kerajaan Tarumanegara
Salah satu peninggalan berupa prasasti ditemukan pada situs peninggalan kerajaan Tarumanegara (kerajaan Taruma). Kerajaan ini pernah menguasai wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Menurut artefak yang ditemukan, dapat diketahui bahwa kerajaan ini adalah kerajaan Hindu.
Continue reading ‘Kerajaan Tarumanegara’
Prasasti
Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa prasasti adalah sebuah dokemen yang ditulis pada material yang keras. Kata prasasti sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti adalah “pujian”. Prasasti atau kebanyakan orang menyebut batu bertulis ini, tidak semua dari isinya adalah pujian (untuk Seorang raja), Sebagian besar prasasti diketahui memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi sima atau daerah perdikan. Sima adalah tanah yang diberikan oleh raja atau penguasa kepada masyarakat yang dianggap berjasa. Karena itu keberadaan tanah sima dilindungi oleh kerajaan.
Continue reading ‘Prasasti’
tradisi penulisan Indonesia
Tradisi penulisan Indonesia telah dikenal beberapa abad yang lalu. Saat media untuk menulis belum seperti yang digunakan hari ini. Nenek moyang kita telah menyadari betapa penting menuliskan “Diary” yang akan mereka tinggalkan sebagai warisan sejarah dan budaya untuk anak-cucunya kelak. Media yang digunakan, bukan pena dan kertas seperti yang biasa kita gunakan hari ini. Mereka menggoreskan sejarah perjalanan hidup, kelahiran dan kematian, cara hidup, dan runtuh serta berkembangnya suatu negara dengan media yang ada, seperti tulang, batu, daun (biasanya memakai daun lontar), atau gerabah. Bahkan didinding-dinding goa tempat mereka tinggal.
Continue reading ‘tradisi penulisan Indonesia’
Keraton Yogyakarta
Bangunan yang sakral dan sangat Istimewa bagi rakyat Yogyakarta ini
didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I. Konon, ada yang mengatakan bahwa bangunan Keraton ini, sebelumnya adalah sebuah pesanggrahan bernama Garjitawati yang digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa lokasi kraton awalnya adalah sebuah mata air (Umbul Pacethokan).
Continue reading ‘Keraton Yogyakarta’
Upacara menyambut kelahiran
Wah, banyak ragam kebudayaan Jawa yang bisa di pelajari ya. Untuk upacara adat untuk menyambut kelahiran ini kemungkinan sudah tidak begitu di perhatikan, tekhnologi, dan kecanggihan alat medis, serta bertambahnya pengetahuan masyarakat pada umumnya, membuat sebagian orang sudah tidak lagi menggunakan upacara ini. Mereka lebih mempercayai penanganan medis dan senam kehamilan. Tetapi, bagi orang Jawa sendiri, meski ke-kinian sudah menyeruak, mereka tetap peduli dan menganggap penting arti upacara ini.
Continue reading ‘Upacara menyambut kelahiran’
Prosesi Panggih
Sebelum masuk pada prosesi panggih (mempertemukan kedua mempelai) yang pertama akan di lakukan adalah melakukan upacara Langkahan. Upacara Langkahan akan di lakukan apabila calon pengantin mempunyai kakak yang di langkahi (Adiknya menikah lebih dulu dari kakaknya) dalam pernikahan itu. Maka sebelum melakukan ijab, calon pengantin akan melakukan upacara “Minta Ijin” kepada saudara lebih tua yang di langkahi tersebut. Dan sebagai simbol penghormatan, sang kakak boleh meminta apa saja sebagai syarat pelangkah yang harus di turuti oleh calon pengantin. Setelah upacara langkahan selesai, barulah masuk pada upacara Ijab Qobul ( pengesahan perkawinan secara agama dan negara).
Continue reading ‘Prosesi Panggih’
Midodareni
Setelah prosesi siraman selesai, tibalah saat bagi calon pengantin wanita untuk menjalankan upacara Midodareni (seperti bidadari). Yang berarti
adalah, calon mempelai wanita di haruskan berdiam diri di kamar dari mulai jam enam sore sampai dengan tengah malam, dengan memakai busana kebaya dan kain batik, dan dengan memakai sanggul sederhana dan riasan (seperti layaknya bidadari). Dalam tradisi Jawa, pada malam midodareni ini, di percaya bahwa bidadari akan datang dari kahyangan pada malam itu.
Continue reading ‘Midodareni’



























