Bangunan yang sakral dan sangat Istimewa bagi rakyat Yogyakarta ini
didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I. Konon, ada yang mengatakan bahwa bangunan Keraton ini, sebelumnya adalah sebuah pesanggrahan bernama Garjitawati yang digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa lokasi kraton awalnya adalah sebuah mata air (Umbul Pacethokan).
Bangunan ini memiliki 7 kompleks utama yaitu:
-
Siti Hinggil Ler (Balairung Utara),digunakan untuk menggelar upacara-upacara resmi kerajaan. Ditengah bangunan ada sebuah bangunan bernama Bangsal Manguntur Tangkil didalam sebuah halaman luas dan terbuka yang bernama Tratag Sithinggil. Bangunan ini diperuntukkan bagi singgasana Sultan pada saat acara-acara resmi kerajaan.
- Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara),di tengah bangunan ini terdapat sebuah bangunan utama bernama Bnagsal Ponconiti. Bangsal ini dahulu digunakan untuk mengadili perkara berat dengan ancaman hukuman mati dimana Sultan sendiri yang memimpim pengadilan. Ada juga yang menyebutkan, bangsal ini digunakan untuk mengadili perkara yang berhubungan dengan keluarga kerajaan.
- Srimanganti, dahulu digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu-tamu penting kerajaan. Sekarang di lokasi ini ditempatkan beberapa pusaka keraton yang berupa alat musik gamelan.
- Kedhaton,merupakan inti dari Keraton seluruhnya. Dibagi menjadi 3 bagian halaman yaitu Pelataran Kedhaton dan merupakan bagian Sultan. Bagian selanjutnya adalah Keputren yang merupakan bagian istri (para istri) dan para puteri Sultan. Bagian terakhir adalah Kesatriyan, merupakan bagian putra-putra Sultan.
- Kamagangan, Regol Kamagangan yang menghubungkan kompleks Kedhaton dengan kompleks Kemagangan. Gerbang ini begitu penting karena di dinding penyekat sebelah utara terdapat patung dua ekor ular yang menggambarkan tahun berdirinya Keraton Yogyakarta. Di sisi selatannya pun terdapat dua ekor ular di kanan dan kiri gerbang yang menggambarkan tahun yang sama. Dahulu kompleks Kemagangan digunakan untuk penerimaan calon pegawai (abdi-Dalem Magang), tempat berlatih dan ujian serta apel kesetiaan para abdi-Dalem magang.
- Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), Di kompleks Kamandhungan Kidul terdapat bangunan utama Bangsal Kamandhungan. Bangsal ini konon berasal dari pendapa desa Pandak Karang Nangka di daerah Sokawati yang pernah menjadi tempat Sri Sultan Hamengkubuwono I bermarkas saat perang tahta III.
- Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan) sekarang dikenal dengan Sasana Hinggil Dwi Abad, digunakan pada zaman dulu oleh Sultan untuk
menyaksikan para prajurit keraton yang sedang melakukan gladi bersih upacara Garebeg, tempat menyaksikan adu manusia dengan macan (rampogan) dan untuk berlatih prajurit perempuan, Langen Kusumo. Tempat ini pula menjadi awal prosesi perjalanan panjang upacara pemakaman Sultan yang mangkat ke Imogiri. Sekarang, Siti Hinggil Kidul digunakan untuk mempergelarkan seni pertunjukan untuk umum khususnya wayang kulit, pameran, dan sebagainya.
Dan masih banyak tempat-tempat yang menarik dan mempunyai sejarah dalam kompleks keraton ini. Jika ingin berkunjung kedalam keraton, disana biasanya ada yang akan menjadi guide bagi kita dan menjelaskan kegunaan tempat-tempat tersebut. Meski tidak semua ruangan boleh untuk dikunjungi, tetapi bisa masuk dan melihat kebesaran raja-raja terdahulu adalah sesuatu yang luarbiasa bagi saya sendiri.

























0 Tanggapan ke “Keraton Yogyakarta”